Tampilkan postingan dengan label About Woman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Woman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2009

Urgensi Tarbiyah Muslimah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan dan pilihan-pilihan. Manusia adalah makhluk dinamis, yang mampu mencerap perubahan, positif ataupun negatif, sehingga memungkinkannya berada dalam kondisi yang tidak permanen kebaikan atau keburukannya. Berbeda dengan malaikat yang permanen dalam kebaikan, dan setan yang permanen dalam kejahatan, manusia adalah makhluk yang perlu melakukan suatu usaha untuk menjadi baik, sebagaimana memerlukan suatu usaha untuk menjadi buruk.

Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi, pada saat yang bersamaan ia juga diberi kebebasan memilih jalan. Namun, apapun pilihan manusia, jalan kebaikan atau memilih ke arah yang buruk, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Semuanya memiliki konsekuensi tersendiri. Allah berfirman:“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (Al Isra’(17): 36). Tarikan-tarikan ke arah kebaikan dan keburukan berlangsung secara eternal dalam diri manusia sepanjang kehidupannya. Karena kondisi yang senantiasa berada dalam tarikan-tarikan kecenderungan seperti inilah, ia senantiasa memerlukan penguatan untuk perbaikan diri. Manusia memerlukan penjagaan yang bersifat terus menerus, karena kecenderungan dalam diri itupun berlangsung sepanjang hidup. Disinilah peran pembinaan diri (tarbiyah) mendapatkan tempat dan posisi yang signifikan.



Tarbiyah merupakan langkah efektif untuk menjaga kebaikan manusia, justru karena banyaknya faktor yang mempengaruhi kebaikan dirinya baik secara internal maupun eksternal. Dengan demikian, melakukan tarbiyah adalah sebuah jalan untuk menjaga dan melipatkan kebaikan diri. Imam Baidhawi dalam kitab tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, menyebutkan bahwa pada dasarnya kata Ar Rabb itu bermakna tarbiyah yang artinya menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaannya setahap demi setahap.

Senada dengan itu, Ar Raghib Al Asfahani dalam kitab Al Mufradat berpendapat bahwa Ar Rabb berarti tarbiyah yang bermakna menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaannya. Untuk lebih memahami hakikat tarbiyah yang lebih kongkrit dan aplikatif, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud memaknai tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (kata-kata) maupun secara tidak langsung (keteladanan dan sarana-sarana lain) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Urgensi Tarbiyah bagi akhwat Muslimah

Secara umum, ada beberapa urgensi tarbiyah pada kalangan akhwat muslimah, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menguatkan kecenderungan diri kepada kebaikan

Wanita, sebagaimana halnya laki-laki, adalah makhluk Allah yang memiliki akal, hati nurani, namun juga nafsu dan kecenderungan-kecenderungan. Di dalam dirinya terdapat sifat-sifat positif, namun juga sifat negatif. Setiap manusia harus melakukan pertarungan dalam dirinya, untuk mengelola sifat-sifat baik dan buruk tersebut sehingga menjadikannya makhluk yang mulia. Rasulullah Saw menggambarkan dua kecenderungan ini sebagai ajakan malaikat dan ajakan setan. Rasulullah Saw bersabda dari Ibnu Mas’ud Ra: “Setan itu dapat menggetarkan hati (mengajak hati) anak Adam (manusia) dan malaikatpun dapat menggerakkan hati (mengajak hati) pula. Adapun ajakan setan ialah untuk mengulangi kejahatan dan mendustakan kebenaran, sedangkan ajakan malaikat adalah mengulangi kebaikan dan mempercayai kebenaran”. Ketika menghadapi pertarungan dalam dirinya sendiri, ada di antara manusia yang terkalahkan oleh hawa nafsunya sehingga ia banyak melakukan keburukan. Ada pula yang berada di tengah-tengah kadang menang tarikan malaikat, kadang menang tarikan setan, dan apa pula yang lebih banyak kebaikannya disebabkan ia lebih mengikuti ajakan kebenaran. Allah berfirman:“…lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah“. (Faathir(35): 32) Yang dimaksud zhalimun linafsihi adalah mereka yang lebih banyak kesalahannya ketimbang kebaikannya. Sedangkan muqtashidun, adalah mereka yang sebanding antara kejahatan dengan kebaikannya, dan sabiqun bil khairat adalah mereka yang lebih dominan dibandingkan perilaku buruknya. Dengan dua sisi yang berbeda diametral ini, manusia dituntut untuk benar dalam menentukan pilihan kehidupan di dunia ini, agar nanti di akhirat bisa mempertanggungjawabkan dengan baik di sisi Allah.Sifat-sifat buruk manusia bisa menjadi dominan, ketika ia selalu memperturutkan keinginan hawa nafsunya. Jadilah ia manusia yang suka membantah, zalim, keluh kesah, sedikit bersyukur, dan lain-lain. Apabila dominasi sifat buruk ini tidak dilawan, akan menyebabkan ia terjatuh ke dalam keburukan yang semakin lama semakin menguat. Proses tarbiyah akan menepiskan dan mengurangi kecenderungan ke arah keburukan tersebut, dengan menyibukkan seseorang dalam aktivitas kebaikan.

1. Antisipasi kondisi eksternal

Realitas kehidupan sekarang ini, banyak diwarnai oleh teknologi yang tidak pernah berhenti berinovasi. Justru karena kemajuan-kemajuan teknologi tersebut, pada akhirnya peperangan antara kebenaran dengan kebatilan, kebaikan dengan keburukan menjadi semakin canggih dan terbuka. Kebatilan mengekspos dirinya dengan sedemikian vulgar dan elegan, tanpa merasa malu dan risih. Kejahatan dalam berbagai bidang juga telah mengemuka sebagai dampak langsung dari kemajuan teknologi.Istilah juggernaut yang digambarkan secara metaforis oleh Anthony Giddens mungkin tepat untuk melukiskan kengerian dunia sekarang. Juggernaut —truk besar— ini meluncur kencang tanpa kendali. Tidak ada manusia yang bisa meloloskan diri dari keadaan-keadaan ketidakpastian ini, dan tidak ada manusia yang sanggup menghentikan laju truk besar tersebut. Pada akhirnya manusia akan terkena dampak baik secara langsung maupun tidak langsung dari laju juggernaut tersebut.Kondisi zaman seperti itu akan bisa berpengaruh terhadap kebaikan individu-individu dan komunitas umat Islam. Pada kenyataannya degradasi moral telah terjadi pada banyak kalangan masyarakat. Wanita-wanita telah kehilangan harga diri dan kemuliaannya. Mereka menjadi pajangan dan tontonan dunia, menjadi alat produksi bagi sejumlah industri, menjadi alat transaksi dan korban eksploitasi.Diperlukan usaha yang sangat serius untuk mengantisipasi kondisi eksternal tersebut agar tidak berimbas secara negatif ke dalam diri wanita muslimah. Tarbiyah Islamiyah akan melakukan peran antisipasi, agar kemajuan sains dan teknologi tidak menimbulkan pengaruh yang destruktif bagi kepribadian muslimah, tetapi justru bisa dimanfaatkan untuk optimalisasi kebaikan diri dan umat. Tanpa proses pembinaan diri, dikhawatirkan para muslimah gagal mengantisipasi dampak-dampak kemajuan peradaban yang tidak manusiawi ini.Rasulullah saw saja, sebagai manusia sempurna, memerlukan penguatan untuk bisa konsisten dalam kebaikan:“….dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka” (Al Isra’ : 74).Bagaimanakah jadinya, jika para wanita muslimah tidak mendapatkan proses penguatan diri lewat tarbiyah? Tidak seorangpun yang akan mampu mengantisipasi pengaruh globalisasi, jika hanya bertumpu kepada kekuatannya sendiri. Diperlukan penguatan dari Allah lewat proses pembinaan dalam kerangka kebersamaan, agar para wanita muslimah tidak dilindas keganasan zaman.

1. Mempersiapkan Akhwat untuk tugas dan peran peradaban

Akhwat muslimah memiliki tugas dan peran yang sangat besar dan penting dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Ia bukan saja rahim tempat bersemainya para pemimpin peradaban, akan tetapi para akhwat muslimah adalah pendidik para pelaku sejarah dari zaman ke zaman; yang oleh karena itu ia lebih dari sekedar pelaku sejarah itu sendiri. Ada peran besar yang harus dilakukan wanita muslimah untuk kebaikan diri dan umat secara keseluruhan, yaitu peran pembangunan peradaban:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan mernjadi aman sentosa” (An Nur:55)

Wanita, sebagaimana juga laki-laki, mendapatkan kewajiban dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar:

“Adapun orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaiakan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka (laki-laki dan perempuan) akan diberi rahmat oleh Allah” (At Taubah : 72).

Untuk berbagai tugas, peran dan kewajiban itulah mereka memerlukan proses tarbiyah Islamiyah. Muhammad Quthb menggambarkan proses tarbiyah dalam Islam seperti menggesek biola, “Ia menganalisa fitrah manusia itu secara cermat, lalu menggesek seluruh senar dan seluruh nada yang dimiliki oleh senar-senar itu, kemudian menggubahnya menjadi suara yang merdu. Di samping itu ia juga menggesek senar-senar secara menyeluruh, bukan satu demi satu yang akan menimbulkan suara sumbang dan tak serasi. Tidak pula menggeseknya hanya sebagian dan mengabaikan bagian yang lain, yang menyebabkan irama tidak sempurna, dan tidak mengungkapkan irama yang indah sampai ke tingkat gubahan yang paling mengesankan”.

“Islam tidak hanya memberi konsumsi yang tepat pada setiap segi kemanusiaan, tetapi juga memberi takaran pada setiap bagian dengan tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah masing-masing menerima bagiannya secara tepat dengan takaran yang tepat pula, manusia bekerja dengan rajin, produktif dan aktif sepanjang hidupnya”, demikian ditulis oleh Muhammad Quthb mengenai proses tarbiyah Islamiyah.

Dengan demikian tarbiyah diharapkan akan berperan menyiapkan segala potensi diri muslimah agar mampu mengemban peran-peran besar dalam sejarah. Mereka harus menjadi wanita yang cerdas dalam segala aspeknya, sehingga tidak tertinggal dibandingkan dengan perempuan-perempuan Barat yang banyak menjadi faktor perusak zaman. Ummul Mukminin A’isyah Ra adalah seorang wanita teladan yang cerdas dalam berbagai bidang.

Urwah bin Zubair pernah berkata, “Aku tidak menyaksikan orang yang lebih memahami tentang kandungan Al Qur’an, kewajibannya, halal haram, puisi, pepatah Arab, dan ilmu nasab, kecuali A’isiyah. Aku tidak menyaksikan orang yang lebih paham tentang masalah fikih, kedokteran dan puisi, kecuali A’isiyah”.

Sosok seperti A’isyah tentu merupakan produk tarbiyah kenabian yang sangat menawan. Para akhwat muslimah diharapkan menyiapkan diri dengan proses tarbiyah untuk bisa memimpin perubahan zaman ke arah yang dikehendaki Islam, sebagaimana para akhwat terdahulu telah ditarbiyah oleh Nabi Saw. Abu Sa’id Al Khudri bercerita, bahwa seorang wanita datang kepada nabi Saw dan berkata:

“Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah mempelajari berbagai ilmu darimu. Sudilah kiranya engkau menyisihkan waktu satu hari bagi kami. Di hari itu kami akan datang kepadamu agar engkau mngajari kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepadamu”.

“Tentukanlah hari dan tempatnya. Aku akan datang memenuhi permintaan kalian,” jawab Nabi Saw.

Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Setelah itu, kaum perempuan berkumpul pada hari dan tempat yang telah ditentukan. Rasulullah datang mengajari mereka tentang apa yang telah diajarkan Allah kepadanya” (riwayat Bukhari).

Wanita muslimah zaman keemasan Islam telah mencontohkan urgensi keterlibatan muslimah dalam forum tarbiyah Rasulullah Saw. Mereka memiliki waktu khusus bertemu Nabi Saw dan mendapatkan hak-hak tarbiyah, justru karena mereka sedang dan akan mengemban amanah-amanah peradaban yang sangat besar.

1. Kekhususan Kaum wanita

Wanita dan laki-laki adalah dua jenis makhluk Allah yang diciptakan dalam kesetaraan dan kesamaan nilai kemanusiaan. Akan tetapi mereka adalah makhluk yang khas satu dengan yang lainnya dalam beberapa sisi, terutama berkenaan dengan peran khusus mereka. Kaum wanita memiliki kekhususan dibandingkan dengan kaum laki-laki, sebagaimana juga terjadi sebaliknya.

Temuan-temuan ilmiah mutakhir telah menemukan bahwa ada perbedaan secara anatomis biologis antara laki-laki dan perempuan. Sekalipun kedua insan ini berasal dari satu asal kejadian tetapi ada perbedaan bentuk anatomis dan psikologis sehingga ada bagian dari tubuh perempuan yang tidak terdapat pada pria, begitu juga sebaliknya.

Pada perempuan ada bagian kandungan yang mempunyai jaringan yang halus dan rapi serta desain yang sedemikian canggih untuk dapat memenuhi tugasnya melindungi kehidupan embrio selama kurang lebih 40 minggu untuk menjadi manusia yang berakal budi di kelak kemudian hari.

Al Ustadz Ahmet Alqet menyatakan bahwa rangka tubuh perempuan lebih kecil dan lebih pipih dari rangka tubuh pria. Tinggi badan perempuan berukuran sedang dan lebih pendek 10-12 cm dari laki-laki yang berukuran sedang. Secara umum para peneliti menemukan perbedaan itu berkisar pada tinggi dan berat badan rata-rata ; dalam besarnya ukuran hati, otak, serta kekuatan pernafasan membakar karbon dan kepekaan indera pembauan. Ditemukan tulang punggung perempuan lebih kecil dan persendiannya lebih ringan. Lambungnya pun lebih pendek dan melengkung.

Perbedaan lingkar dada dua jenis insan ini juga menyolok. Perubahan-perubahan secara fisiologis antara laki-laki dan perempuan cenderung berbeda. Menurut Mr. Hurlock (1994) perkembangan tinggi badan perempuan lebih cepat dibanding laki-laki. Pada perempuan tercapai pada usia tujuh belas dan delapan belas tahun dan rata-rata laki-laki satu tahun sesudahnya.

Begitu juga pada kapasitas paru-paru perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun sedangkan laki-laki mencapai kematangan beberapa tahun kemudian. Pertumbuhan pubertas lebih cepat terjadi pada perempuan, yakni mulai kira-kira usia 8,5 sampai 11,5 tahun dan laki-laki mulai sekitar 10,5 sampai 14,5 tahun.

Sedangkan ciri-ciri seks primer ditunjukan oleh perkembangan organ-organ seks. Pada laki-laki dimulai dari gonad atau testes yang terletak di dalam scrotum. Ketika fungsi-fungsi organ reproduksi laki-laki sudah matang biasanya mulai terjadi “mimpi basah”. Hal ini terjadi ketika kandung kemihya penuh, mengalami sembelit, atau jika terselimuti dengan hangat. Pada perempuan terjadi pertumbuhan organ reproduksi pada masa puber. Uterus anak usia 11 tahun atau 12 tahun seberat 5,3 gram dan pada usia 16 tahun rata-rata beratnya 43 gram. Tube falopi, telur-telur dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini.

Selain itu mulailah datang masa haidh yang tidak terjadi pada laki-laki. Pada keadaan ini terjadi pengeluaran darah, lendir dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi kira-kira setiap bulan sampai mencapai usia menopause pada akhir usia empat puluhan atau awal lima puluhan tahun. Jadi disimpulkan secara umum anatomis perempuan dan laki-laki banyak memiliki perbedaan dan kekhususan yang akan mendukung peranannya di kemudian hari.

Hal lain yang menarik dari perkembangan psikologis ditemukan oleh dua guru besar yakni Lowe Broso dan Sirgy bahwa perempuan lebih kuat menahan derita sakit dibanding laki-laki. Hal ini merupakan kebaikan karena perempuan banyak menderita sakit, seperti ketika hamil, melahirkan, menyusui, haidh, nifas dan lain-lain. Bagaimana dengan ciri-ciri sifat yang lain, apakah ada perbedaan ?

Walaupun perbedaan pokok susunan syaraf di antara laki-laki dan perempuan tidak berarti, tapi ada suatu kecenderungan dalam perangai yang sifatnya berlainan. Menurut Abbas Kararah (1995) bahwa kelembutan, kehalusan watak dan kelebihan perasaan lebih dominan terdapat pada perempuan, sedangkan kekerasan, pendirian teguh, kecerdikan menguasai hawa nafsu merupakan ciri-ciri watak lelaki.

Di sisi lain intuisi perempuan lebih tajam, kemampuan ingatan perempuan amat kuat. Hal lain dibuktikan dengan melihat kenyataan bahwa para aktris film lebih cepat menghafal teks skenario dari pada para aktornya. Penelitian Hadiyono dan Kahn (1987) menemukan bahwa laki-laki secara signifikan menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada stabilitas emosi, dominasi, keberanian dan kepuasan diri dari pada perempuan.

Newcomb et.al (1986) juga melaporkan persepsi perempuan terhadap kejadian-kejadian hidup lebih ekstrim dari pada laki-laki. Kejadian-kejadian hidup lebih dipersepsikan sebagai hal yang tidak mengenakkan bagi perempuan. Diener et.al (1985) juga menemukan bahwa perempuan memang menunjukan intensitas emosi (positive-negative affect) yang lebih ekstrim dibanding laki-laki.

Dari serangkaian perbedaan tersebut menunjukkan, ada kekhususan pada diri wanita yang harus mendapatkan sentuhan tarbiyah secara khusus pula. Ada bagian-bagian yang memang sama antara laki-laki dan perempuan yang oleh karena itu bisa ditempuh dengan pentarbiyahan yang sama, akan tetapi karena adanya kekhususan tersebut diperlukan pula perhatian yang spesifik pada aspek-aspek yang berbeda.

Ahamiyah

1. Penanaman iman memerlukan kesungguhan, penjagaan dan mutaba’ah
2. Amal Islami memerlukan ta’awun alat taqwa
3. I’dadul Mar’ah Muslimah adalah keharusan dan tuntutan zaman
4. Mempersiapkan generasi masa depan shalih memerlukan ibu-ibu yang tertarbiyah dengan baik
5. Mar’ah Muslimah adalah unsur asasi dalam membangun masyarakat
6. Fitrah Muslimah memerlukan optimalisasi untuk menjadi pilar-pilar kehidupan

Tujuan

1. Fardiyah
1. Bina’ sykahshiyah Islamiyah
2. Bina syakhsiyah da’iyah
3. Pelatihan amal dan pengalaman
4. Medndapatkan Ketrampilan
2. A’iliyah
1. Mendapatkan suami shalih yang mendukung dakwah
2. Membina keluarga yang ddipenuhi pengarahan
3. Membentuk keluarga yang terlibat dalam amal Islami
3. Ijtima’iyah
1. Menumbuhkan kepekaan dan jiwa sosial bagi muslimah
2. Mempersiapkan akhwat untuk peran-peran peradaban
3. Mempersiapkan akhwat untiuk peran kepemimpinan
4. Da’wiyah
1. Meningkatkan mustawa tsaqafah akhwat
2. Membentangkan medan dakwah bagi akhwat
3. Pelibatan akhwat dalam perkumpulan wanita


[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Senin, 01 Desember 2008

AURAT.........

Kata aurat berasal dari beberapa akar kata:
1. ‘awira = hilang perasaan, hilang cahaya, atau (untuk mata) lenyap penglihatan;
2. ‘aara = menutup dan menimbun;
3. a’wara = mencemarkan bila terlihat
Secara bahasa, aurat berarti malu, aib, buruk.

Di Islam, yang dimaksud dengan aurat adalah batas minimal dari anggota tubuh manusia yang wajib ditutup karena perintah ALLOH SWT. Anggota tubuh tersebut dapat menimbulkan birahi atau syahwat jika dibiarkan terbuka, karenanya mesti ditutup dan dijaga, sebagai bagian dari kehormatan manusia.

Jika kedua hal di atas digabung, maka aurat adalah anggota atau bagian dari tubuh manusia yang bila terbuka atau tampak akan menimbulkan rasa malu, aib, dan keburukan. Bagi yang terbuka auratnya, akan menimbulkan rasa malu, sedangkan bagi yang melihatnya akan menimbulkan rasa terangsang dan lain-lain.

Kewajiban menutup aurat sudah menjadi kesepakatan semua pihak. Tidak ada permasalahan/selisih pendapat mengenai aurat laki2. Semuanya sepakat bahwa aurat laki2 = bagian tubuh antara pusar (udel,Jawa) hingga lutut. Imam Hambali dan Imam Malik bahkan menyatakan bahwa aurat laki2 adalah 2 kemaluan, depan dan belakang.

Maka, tidaklah heran, jika kita (laki2) sholat mesti menggunakan penutup aurat, bisa berupa celana panjang, ataupun sarung. Celana pendek, terlebih celana dalam, tidak bisa digunakan untuk sholat, karena aurat masih terlihat.

Untuk perempuan, terdapat perbedaan pendapat diantara kaum ulama. Pendapat pertama menyatakan bahwa aurat perempuan adalah SEMUA/SELURUH TUBUHNYA, TERMASUK muka, kedua telapak tangan dan bahkan kukunya. Tidak heran kita akan temukan perempuan2 bercadar yang menutup hampir semua tubuhnya, kecuali sedikit matanya untuk melihat. Pendapat kedua menyatakan aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya KECUALI muka, kedua telapak tangan, dan kukunya. Termasuk di dalamnya kedua telapak kakinya.

Apapun perbedaan pendapat yang timbul, semua ulama sepakat bahwa MENUTUP AURAT, APA DAN BAGAIMANAPUN BATASNYA, adalah WAJIB. Dasar yang digunakan adalah:

>> An Nuur(24):30 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.”

>> An Nuur(24):31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

>> An Nuur(24):60 “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

>> An Ahzab(33):33 “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

>> An Ahzab(33):59 “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

>> An A’raf(7):26 “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Minggu, 30 November 2008

KECANTIKAN HAKIKI

Mode berkembang pesat dengan dalih simplicity (kesederhanaan) dan kepraktisan justru menjurus pada minimalisme dan sensualitas.


Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu kaum lelaki memegang cemeti bagaikan ekor sapi dipukulkan pada orang lain, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, serong, dan menyerongkan kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring.Mereka tidak bisa masuk surga dan tak bisa merasakan baunya, padahal bau surga itu sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian, sekian.'

Lebih dari 1.400 tahun lalu Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang kecenderungan berpakaian wanita di suatu masa. Dirunut dengan fakta saat ini, hadis tersebut sangatlah relevan. Mode yang berkembang pesat yang didesain dengan dalih simplicity (kesederhanaan) dan kepraktisan justru menjurus pada minimalisme dan sensualitas.

Mengumbar paha, dada, lekuk tubuh, dan goyang seronok seolah dipaksakan untuk menjadi 'biasa'. Lebih runyam lagi ketika kemudian berkembang pemahaman bahwa kecantikan lebih cenderung diukur berdasarkan faktor fisik. Kulit yang putih, rambut yang hitam lurus, tubuh yang langsing, serta ukuran-ukuran vital dengan bilangan-bilangan tertentu seolah menjadi standar wajib seorang wanita dianggap cantik atau bukan.

Seseorang bisa dilahirkan cantik, buruk rupa, berkulit putih, merah, kuning, atau coklat dan hitam, karena hal itu adalah sunatullah, sebagai suatu ketetapan dari Allah. Tidak ada satu manusia pun yang mampu menolak dengan wajah seperti apa ia dilahirkan. Sehingga, bentuk rupa dan fisik seseorang tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Yang dinilai dari tiap-tiap manusia adalah bagaimana dia menggunakan apa yang diberikan Allah kepadanya, baik dia cantik atau biasa-biasa saja. Alangkah sia-sianya sebuah kecantikan bila digunakan tidak sesuai dengan kehendak pembuatnya, yaitu Allah SWT. Demikian pula akan sia-sia bila keburukan muka diratapi dan disesali, karena toh kita tidak dibebani dosa karena keburukan itu.

Akan lain halnya bila merawat tubuh. Selama hal tersebut tidak mengubah ciptaan Allah, maka justru harus dilakukan sebagai bentuk merawat ciptaan-Nya. Cantik yang hakiki justru tidak bertumpu pada fisik semata. Cantik hakiki dimunculkan dari dalam jiwa, dengan meresapkan pemahaman tentang Islam sehingga membentuk kepribadiannya.

Pemahaman Islam inilah yang niscaya akan menghasilkan kecantikan hakiki karena dia berkepribadian Islam: memiliki pola pikir Islami (aqliyah Islamiyah) dan berpola tingkah laku Islam (nafsiyah Islamiyah).

Maka, seseorang yang berkepribadian Islam ini tidak akan berpikir dengan selain kerangka berpikir Islam dan tidak akan berbuat selain dengan perbuatan yang sesuai dengan Islam. Benar-benar akan cantik dan indah luar dalam karena sesuai dengan keinginan yang Maha Indah, sesuai dengan penegasan hadis Rasulullah SAW, 'Sesungguhnya Allah adalah Maha Indah dan menyukai keindahan.'

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

THE ANGLE

Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.

Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”

Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:

Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

Al-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: ”Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)

Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.

Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: ”Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

ISTIHADLAH

Istihadlah adalah darah yang keluar (dari rahim wanita) bukan pada waktunya dari urat yang disebut adzil. Wanita yang istihadlah masalahnya memang agak rumit, karena darah haid menyerupai darah istihadlah ini. Jika darah yang keluar dari wanita itu terus menerus atau melampaui waktunya, dan ia ragu apakah darah itu darah haid atau istihadlah, maka ia tidak boleh meninggalkan shaum dan sholat, karena hukum yang berlaku bagi wanita istihadlah adalah hukum wanita-wanita suci.

Kondisi-Kondisi Wanita Ketika Istihadlah

Dengan demikian wanita yang sedang istihadlah memiliki tiga kondisi, yaitu:

1. Wanita itu mengetahui kebiasaan tertentu sebelum datangnya istihadlah, bahwa sebelumnya ia haid lima atau delapan hari, misalnya ia haid di awal atau di tengah bulan, sedang ia mengerti akan jumlah dan waktunya, maka hal itu menuntut wanita itu untuk berdiam diri selama kebiasaan haidnya, ia hendaklah meninggalkan sholat dan shaum, karena baginya berlaku hukum-hukum haid. Akan tetapi jika kebiasaan itu habis, maka hendaklah ia segera mandi dan sholat. Adapun darah yang masih tersisa adalah darah istihadlah, karena Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Ummu Habibah, yang artinya: “Berdiam dirilah kamu selama haid, kemudian setelah itu mandi dan sholatlah.” (HR: Muslim). Dan sabda beliau kepada Fatimah binti Abu Hubais, yang artinya: “Sesungguhnya hal itu adalah keringat, bukan haid, maka jika datang haid kepadamu, tinggalkanlah sholat..” (HR: Bukhari dan Muslim).

2. Jika wanita itu tidak mempunyai kebiasaan tertentu, tetapi darahnya bisa dibedakan, dimana sebagian darahnya terdapat ciri-ciri darah haid, yaitu seperti darah yang berwarna hitam, kental atau berbau dan sisanya terdapat ciri-ciri darah istihadlah, yaitu berwarna merah, tidak berbau dan tidak kental, maka kondisi seperti ini yaitu darah yang mempunyai ciri-ciri darah haid, berarti wanita itu haid, dan ia hendaklah berdiam diri meninggalkan sholat dan shaum. Adapun darah yang selebihnya adalah darah istihadlah, dimana wanita itu harus mandi ketika darah yang terdapat ciri-ciri haid itu telah habis kemudian sholat dan shaum dan ia dianggap telah suci. Hal ini berdasarkan sabda Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy, yang artinya: “Jika darah itu haid, maka ia berwarna hitam yang telah dikenal, maka tinggalkanlah sholat, tetapi jika berwarna lain, maka hendaklah ia berwudlu dan sholat.” (HR: Abu Dawud dan An-Nasa’I, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim). Jadi dalam hal ini bahwa wanita yang sedang istihadlah, hendaklah ia melihat darah, sehingga dengan itu ia dapat membedakan antara darah haid dan lainnya.

3. Jika wanita itu tidak memiliki kebiasaan tertentu dan tidak ada ciri yang membedakan antara darah haid dan darah lainnya, maka hendaklah ia berdiam diri pada masa-masa umumnya haid, yaitu selama enam atau tujuh hari pada setiap bulannya, karena masa ini adalah kebiasaan haid bagi rata-rata kaum wanita. Berdasarkan sabda Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Hammah binti Jahsyi, yang artinya: “Sesungguhnya itu hanya goyangan dari syetan, hendaklah seorang wanita menjalani haidnya selama enam atau tujuh hari, lalu mandilah. Dan apabila telah suci, sholatlah 24 atau 23 hari. Sholat dan berpuasalah, karena hal itulah telah cukup atasmu. Dan begitu juga berbuatlah sebagaimana yang diperbuat oleh wanita haid.” (HR: Lima Periwayat Hadits, dan dishahihkan oleh Imam Tirmidzi).

Alhasil dari keterangan di awal adalah bahwa kebiasaan tertentu bagi wanita adalah kembali pada kebiasaan haidnya dan perbedaan tertentu bagi wanita kembali kepada perbuatan yang berbeda pula. Maka wanita yang terbebas dua kondisi di atas berarti dia harus menjalani haid selama enam atau tujuh hari. Dengan demikian ketiga hadits dari Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang Mustahadlah di awal dapat dipahami (dikumpulkan).

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah berkata, “Tanda - tanda haid dikatakan ada 6 yaitu:

* Kebiasaan, karena kebiasaan merupakan tanda yang paling kuat dan karena asal kedudukan darah haid itu tanpa darah yang lain.
* Perbedaan antara darah hitam dan kental serta berbau lebih nyata menunjukkan haid daripada darah yang berwarna merah.
*Melihat mayoritas kebiasaan wanita, karena asal suatu keputusan bagi seseorang berdasarkan keumuman yang mayoritas.

Ketiga tanda ini telah ditunjukkan dalam hadits dan kenyataan. Kemudian beliau menyebutkan tanda-tanda yang lain dan berkata pada akhirnya, “Pendapat yang paling kuat adalah dengan mengambil pendapat yang telah ditunjukkan oleh sunnah dan menolak selain itu.”

Hal-Hal yang Harus Dilakukan oleh Wanita yang sedang Istihadlah dalam Kondisi Ia Berstatus Suci:

* Ia wajib mandi setelah darahnya yang dianggap darah haid itu habis sebagaimana telah dijelaskan di awal (pada pembahasan haid).
* Membasuh farji (vagina)-nya untuk membersihkan darah yang keluar setiap kali akan mendirikan sholat. Dan hendaklah ia menyelipkan kapas atau lainnya pada vaginanya untuk menahan darah yang akan keluar sehingga serta membalutnya kapas tersebut agar tidak jatuh, kemudian berwudlu’ setiap kali masuk waktu sholat, karena adanya sabda Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang wanita yang istihadlah ini, yang artinya: “Hendaklah ia meninggalkan sholat pada hari-hari haidnya, kemudian setelah itu hendaklah ia mandi, dan berwudlu’ setiap kali hendak sholat.” (HR: Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan).

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

MUSLIMAH

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (QS. 103:1-2)

Saudariku, generasi muda menantikan peranmu yang sangat sangat mereka harapkan, jika semua medan ini tidak dapat kamu lakukan maka tidak selayaknya semuanya diabaikan.


Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh seorang muslimah adalah etika dan adab keluar rumah yaitu; meminta izin, berhijab(memakai pakaian yang menutup aurat), tidak berbaur bersama laki-laki, dan tidak memperindah suara dan ucapannya.Dan seorang muslimah yang bertakwa tidak akan mengabaikan tanggung jawab mendidik anak, dan hak-hak keluarga yang lain karena alasan dakwah, karena tanggung jawab tersebut adalah fardu ‘ain(kewajiban setiap individu) dan dakwah adalah fardu ‘ain, sedangkan fardu ‘ain harus diutamakan dari fardu kifayah.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah agar islam tetap tingggi dan jaya, dakwah diberikan kemenangan, dan kita menjadi para khadim(pelayan)agamanya, serta semua amal yang kita lakukan diterima di sisiNya.

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

AKTIVITAS BERDAKWAH MUSLIMAH

Allah Swt berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain.Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat…” (QS.9:71)

islam merupakan agama yang memiliki pandangan yang adil terhadap wanita, dan islam telah memberikan kepadanya tanggung jawab yang sama dengan laki-laki sesuai dengan fitrahnya, dan jauh dari percampuran dengan lawan jenis serta terhindar dari pandangan mereka. Medan aktifitas dakwah ditengah kaum sejenisnya sangat terbuka luas.


Dakwah bukanlah tanggung jawab laki-laki saja, tetapi menjadi tanggung jawab wanita juga.Sejak permulaan islam, seorang muslimah telah memikul tanggung jawab dakwah ini. Wanita pertama yang telah dibuka hatinya oleh Allah untuk memeluk islam dan menjadi pendukug pertama dakwah rasulullah saw, yaitu; khadijah binti khuwailid dapat dijadikan teladan bagi para muslimah. Begitu juga apa yang dilakukan oleh syuraik al-quraisyiah, setelah ia masuk islam, ia pergi menemui para wanita quraisy dan mengajak mereka untuk memeluk agama ini. Sampai akhirnya penduduk mekah mengetahui aktifitasnya, lalu mereka berkata kepadanya:”seandainya bukan karena kaummu maka kami pasti akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, tetapi kami akan mengembalikannu kepada mereka”. Lalu mereka menaikankannya keaatas onta tanpa ada sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat duduk diatasnya. Dan membiarkannya selama tiga hari tanpa memberinya makan dan minum.

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Senin, 28 Juli 2008


Anda ingin lebih cantik dan menarik??

# Jadikanlah Ghadhdul Bashar (menundukkan pandangan) sebagai "hiasan mata" anda, nescaya akan semakin bening dan jernih.

# Oleskan "lipstik kejujuran" pada bibir anda, nescaya akan semakin manis.

# Gunakanlah "pemerah pipi" anda dengan kosmetik yang terbuat dari rasa malu yang dibuat dari salon Iman.

# Pakailah "sabun Istighfar" yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.

# Rawatlah rambut anda dengan "Selendang Islami" yang akan menghilangkan kelemumur pandangan lelaki yang merbahayakan.

# Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu' dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwwah.

# Sebaik-baiknya kalung anda adalah kalung "kesucian".

# Bedaklah wajah anda dengan "air Wudhu" nescaya akan bercahaya di akhirat.

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Di Mana Cantiknya Seorang Wanita?

Mungkin pada sepasang matanya yang hening yang selalu menjeling tajam atau yang kadang kala malu-malu memberikan kerlingan manja. Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menyerlahkan senyuman manis, atau yang sekali-sekala memberikan kucupan mesra di dahi umi juga, ayah, suami dan pipi munggil anak-anak. Atau mungkin juga pada hilai tawanya yang gemersik dan suara manjanya yang boleh melembut sekaligus melembutkan perasaan.

Sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan perempuan. Sejuta malah berjuta-juta kali ganda perkataan pun masih belum cukup untuk mendefinisikan tentang keindahan perempuan. Kitalah perempuan itu. Panjatkan kesyukuran kehadrat Tuhan kerana menjadikan kita perempuan dan memberikan keindahan-keindahan itu. Namun, betapa pun dijaga, dipelihara, dibelai dan ditatap di hadapan cermin saban waktu, tiba masanya segalanya akan pergi jua. Wajah akan suram, mata akan kelam. Satu sahaja yang tidak akan dimamah usia, sifat keperempuanan yang dipupuk dengan iman dan ibadah.

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Senin, 19 November 2007

Kita adalah Jiwa Kita Bukan Tubuh.....

ada cerita kalo ada seorang cewek mau ngerubah warna kulitnya yang hitam menjadi putih karena calon mertuanya menginginkan menantu yang berkulit putih, karena rata-rata orang yang terlahir sebagai suku seperti ibunya itu berkulit putih....intinya dia ingin menantu yang satu suku dengannya, padahal dia berkulit gelap sewajarnya orang-orang yang terlahir dengan sukunya..... usahanya untuk mengubah warna kulitnya bukan hanya sebatas luluran, mandi susu atau memakai ramuan-ramuan pemutih dari leluhur....wah berarti leluhurnya pun udah berusaha menemukan formula pemutih, mungkin leluhurnya harus belajar ke jepang dulu...walah jadi keman-mana ceritanya....focus!!!

usaha si cewek berakhir hingga kepada seorang dokter ahli bedah plastik....ya...dia mau ngerubah kulitnya jadi plastik....upssss!!!maksudnya dia mau mutihin kulitnya seperti yang dilakukan Michael Jackson si KING Of POP.....
di hari bersejarahnya saat dia sudah berhasil merubah sukunya dengan warna kulit.....dia mendapat kabar kalo calon mertuanya meninggal......dia shock karena apa yang dikorbankan ternyata useless.....
well.....sebenarnya apapun bentuk kita saat lahir......itu suatu ketetapan yang tidak bisa di rubah...kita tau tidak ada hisab atas apakah kita cantik, jelek, putih, hitam, kurus, gemuk, tinggi, pendek, whateverlah!!! yang dihisab adalah cara kita untuk menjadi cantik, kurus, seksi, tinggi, gemuk, hitam, putih....whatever!!!!
lagian.....seberapapun kita berubah secara fisik.....yang ada di dalam diri hanya jiwa!!!!seberapa cantik fisik bisa menandingi cantiknya jiwa......
kata kerennya inner beauty kita gitchu lohhhhhhhh!!!!

[+/-] bAcA yUuUkk,!!!

Template by : kendhin x-template.blogspot.com